Duka mendalam menyelimuti Presiden Jokowi yang harus kehilangan sang ibu, Sujiatmi Notomiharjo. Ibunda Presiden Jokowi meninggal dunia pada Rabu 25 Maret 2020 sore di Solo. Sujiatmi Notomiharjo menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Slamet Riyadi, Solo.

Kabar yang beredar menyebutkan ibunda Jokowi meninggal dunia lantaran penyakit kanker. Sujiatmi Notomiharjo diketahui mengidap penyakit kanker selama empat tahun. Ibunda Presiden Jokowi berpulang di usianya yang ke 77 tahun.

Jenazah Ibunda Presiden Jokowi dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Mundu, Karanganyar, Jawa Tengah. Jenazah ibu tiga anak tersebut dimakamkan di samping makam suaminya yang lebih dulu berpulang. Sosok Sujiatmi Notomiharjo ternyata cukup dikagumi banyak orang.

Lantas seperti apa sosok Sujiatmi Notomiharjo? Sujiatmi Notomiharjo adalah anak dari pasangan Wirorejo dan Sani, pedagang kayu dari Kelurahan Giriroto, Ngemplak, Boyolali. Sujiatmi Notomiharjo menjadi satu satunya murid perempuan di SD Kismoyo.

Dia merupakan anak bungsu dan perempuan satu satunya dari tiga bersaudara pasangan Wirorejo dan Sani. Kakaknya bernama Wirorejo dan Miyono. Sujiatmi Notomiharjo lahir dan besar di Desa Gumukrejo, Kelurahan Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Dari buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (2014) melansir dari Kompas.com , orang tuanya tidak pernah membedakan perlakuan Sujiatmi dengan kedua kakak lelakinya. Saat kedua kakak lelakinya bersekolah,SujiatmiNotomiharjojuga disekolahkan kedua orang tuanya. Waktu itu, di kampung tidak ada anak perempuan sebaya dirinya bersekolah.

Di sekolah,SujiatmiNotomiharjomenjadi satu satunya perempuan yang bersekolah di SD Kismoyo. Sekolah dasar tersebut berjarak cukup jauh dari rumahnya. Dari sekolah sampai rumah jaraknya mencapai 5 kilometer.

Terkadang,SujiatmiNotomiharjoberangkat sekolah naik sepeda atau berjalan kaki. Semasa sekolah, dia mendapatkan nilai tertinggi untuk pelajaran matematika. Pintar dalam berhitung itu menjadikan dirinya sebagai asisten dalam mengerakkan roda usaha kayu suaminya.

Bisnis perkayuan digeluti oleh Sujiatmi bersama suami, Widjiatno Notomihardjo. Sujiatmi Notomiharjo dan Widjiatno menikah pada 23 Agustus 1959. Mereka memutuskan menikah di usia muda.

Kala itu Sujiatmi berusia 16 tahun, sedangkan Widjiatno berumur 19 tahun. Keduanya belum lulus sekolah. Namun di masa itu, wanita berusia 16 tahun sudah siap untuk menikah. Widjiatno, suamiSujiatmiNotomiharjomerupakan kawan sepermainan Mulyono, kakak Sujiatmi. Usianya terpaut tiga tahun lebih tua dari Sujiatmi.

Mereka bertemu ketika Widjiatno di bangku SMA, sementara Sujiatmi masih sekolah di bangku di SMP. Widjiatno, yang ketika dewasa mengubah nama menjadi Notomiharjo, adalah pemuda yang berparas halus dan bertubuh gagah. “Pak Noto itu ganteng sekali,” kata Sujiatmi.

Notomiharjo muda tinggal bersama kakek neneknya di Dusun Klelesan, masih tetangga Gumukrejo. Orangtua Notomiharjo tinggal di Desa Kranggan, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, sekitar 25 km dari Boyolali, Jawa Tengah. Dari pernikahan mereka lahir Jokowi, anak sulung, dan adik adiknya, Iit Sriyantini, Idayati, dan Titik Ritawati.

Dari Tim Majalah Pendidikan Keluarga Kemendikbud melansir dariSurya,pembawaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang kalem, sopan, santun, sederhana, dan pekerja keras rupanya tidak jauh dari sosok ibundanya, Sujiatmi Notomiharjo. Pendidikan budi pekerti, kesederhanaan hidup, kerendahan hati, menjadi pembentuk karakter Jokowi dan adik adiknya. Sujiatmi Notomiharjo memberi pesan untuk selalu amanah pada putranya.

”Saya cuma mengingatkan saja. Kamu bukan hanya milik keluarga, sekarang sudah punya bangsa Indonesia,” katanya. ”Sepuluh tahun kok naik pangkat tiga kali. Kamu harus bersyukur jangan menggak menggok (belak belok), lurus saja. Jangan aneh aneh diberi amanah sama rakyat, sama Allah. Dijalankan dengan baik.” tambahnya. Ibunda Jokowi,Sujiatmi Notomiharjo dikenal sebagai sosok pekerja keras yang membantu suaminya berdagang kayu.

“Saya hanya membantu suami. Suami mencari glondong (kayu), saya di perusahaan. Kakak saya, usaha kayunya jauh lebih besar. Bagi saya yang penting cukup untuk sekolah anak anak, tidak harus kaya raya,” katanya. Dalam buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi (2014), karya Kristin Samah dan Fransisca Ria Susanti, Sujiatmi tidak ingat apakah dirinya bersekolah dengan bersepatu dan berseragam. Ketika sekolah, yang diingat Sujiatmi dulu rambut hitamnya selalu dikepang dua oleh ibunya.

Pelajaran berhitung menjadi pelajaran yang paling disukai. Dia berusaha menjadi yang pertama mengacungkan jarinya untuk mengerjakan soal soal hitungan di depan kelas.